Senin, 24 September 2012

14 Raden Mas Bagus Harus / Ki Ageng Bashoriyah


Seblunya kita menengok dulu siapa sosok K. basyariah . K,basyariah adalah murid dari k, Mohammad Besari Tegall sari,beliau adalah putra ki ageng Nolojoyo,prongkot,tosanan somoroto ponorogo,yang notaben nya masih keturunan asli dari Mataram.Adapun silsilah K.basyariah sebagai berikut;

1.   Kiageng Sutowijoyo (Mataram)
2.   Raden Mas Jolang (mataram)
3.   Pageran Kajoran( mataram)
4.   Pageran Pringgoloyo (mataram)
5.   Raden Aryo Paduresa
6.   Raden Panji Dreposentono (mataram)
7.   Kiageng Abdul Imam( prongkot)
8.   Kiageng Nolojoyo (prongkot)
9.   Kiageng R.bagus Harun Basyariah

Semasa kecil beliau sudah terlahir d kalagan kiai,beliau mempunyai nama  kecil raden Harun.S dan diberi nama lagi oleh K,tegal sari menjadi Bagus HarunBasyariah,
Ketika beliau mondok di tegal sari dan pada saat itu karto suroo ada pemberontakan tentara kartosuro tidak bias megaman kan kraton sehingga sang sinuwun mintak bantuan dari tegal sari, kemudian K.tegal sari diberi bantuan degan megirimsalah satu santri nya yang bernama Bagus harun Basyariah ,menurut keterangan mbh warni(narasumber)untuk masuk kraton tersebut tidak bias masuk kalau tidak berubah bentuk,akirnya K,basyariah degan seijin Allah menjelmo/ berubah menjadi Kinjeng orang sekarang menyebut nya kecapung,sesampainya di dalam kraton.beliau di kasihtau untuk dimintai bantuan untuk menagkap pemberontak-pemberontak yang masih keluarga kraton itu sendiri yang di pimpin Raden Mas Garendi ,boleh di perangi asal jagan menimbulkan kematian . akirnya K basyariah dulu diberi gaman oleh K tegal sari berupa panah tapi panah tesebut berupa panah tumpul dan diberi tali di ujung busur panah tersebut yang di beri nama  tali Lawe welang ,yang bertujuan apabila dipanah kan bisa  menjirat musuh tanpa harus melukai dan membunuh nya.
Dan alhamdulilah semua pemberontak tersebut bisa ditangkap semuanya dan bisa dihukum.sepulang dari kraton beliau diberi hadiah  seorang putri dan baju senopati,serta tanah sewulan,nama aslinya bukan sewulan tapi alas  cewulan. Karna beliau adalah seorang kiai tidak mau menjadi adipati akirnya sandangan adipati itu dibuang di kedung blang puang di utara sekayu yang berada di desa lengkong sukorjo, ponorogo.dan beliau nitip pasan kepada jin yang menunggu kedung tersebut ;barang siapa keturunan ku besok yang ingin orang yang mempunyai derajat dan pangkat besok wenehono ageman iki menurut kekuatanya sendiri-sendiri .katanya bapak amin (bupati ponorogo) juga pernah nepi disitu dan diberi petunjuk katanya payung yang bernama payung tungul Naga tersebut pas di atas pak amin nepiitu,dan Alhamdulillah beliau seksrag jadi bupati ponorogo.
Dan ketika beliau sudah sepuh( tua) beliau pegen di rawat/ diopeni oleh anak yang pertama yang bernama Nyai Matsantri dan akirnya beliau meninggal di sewulan

Kiai Ageng Basyariyah atau Raden Mas Bagus Harun adalah putra dari Dugel Kesambi (Pangeran Nolojoyo), adipati Ponorogo pada akhir abad ke 17 M di bawah naungan Kerajaan Mataram. Meski diasuh dalam keluarga ningrat, RM Bagus Harun lebih banyak menghabiskan masa mudanya untuk nyantri dan menimba ilmu kepada Kyai Ageng Hasan Besari (Tegalsari, Ponorogo). Kepada gurunya ini, RM Bagus Harun tidak hanya belajar ilmu syariat dan tauhid, namun juga memperdalam tashawuf khususnya ajaran tarekat Naqsabandiyah Syathariyah. Selama berguru kepada KA Hasan Besari, RM Bagus Harun dikenal sebagai murid yang alim, cerdas dan tawadhu. Karena itulah, RM Bagus Harun menjadi murid kesayangannya bahkan sampai diangkat menjadi anak.

Alkisah, saat Mataram dipegang oleh Paku Buwono II, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh RM Gerendi (Pemberontakan Pacinan). Pemberontakan tersebut telah berhasil merebut tahta dan Paku Buwono beserta pengikut setianya mengungsi ke daerah timur. Di tengah pengungsian, Paku Buwono mendapat petunjuk bahwa penolongnya berada di kawasan Ponorogo. Singkat cerita, bertemulah Paku Buwono dengan Hasan Besari bersama Bagus Harun. Atas mandat dari Hasan Besari, Bagus Harun ikut Paku Buwono II ke Kertosuro untuk membantu mengembalikan tahtanya. Dengan linuwih kesaktian yang dimiliki oleh Bagus Harun, akhirnya Paku Buwono II bisa merebut kembali tahtanya.

Atas jasanya tersebut dan setelah mengetahui bahwa Bagus Harun ternyata adalah putra adipati Ponorogo (yang masih memiliki garis keturunan sampai Senopati Sutowijoyo), Paku Bowono II berencana mengangkat Bagus Harun sebagai Adipati Banten. Namun Bagus Harun menolak karena harus kembali mengabdi kepada gurunya di Ponorogo. Sebagai gantinya, Paku Buwono II memberikan songsong (payung kerajaan) dan lampit. Songsong kerajaan merupakan simbol pemberian tanah perdikan. Belakangan Songsong tersebut berbuah tanah perdikan di kawasan Madiun yang kemudian dinamai “Sewulan” oleh Bagus Harun.

Bagus Harun yang kemudian lebih sering dikenal dengan Kiai Ageng Basyariyah kemudian menetap di Sewulan dan mendirikan masjid dan pesantren hingga akhir hayatnya. Makamnya berada di kompleks makam Sewulan di sebelah Barat Masjid Agung Sewulan, tepatnya di cungkup utama. Di cungkup utama tersebut, makam Kiai Ageng Basyariyah diapit oleh putrinya (Nyai Muhammad Santri) dan menantunya (Kiai Muhammad Santri). Ketiga makam tersebut di naungi kain berwarna hijau. Di atasnya terdapat kaligrafi dengan khot berwarna emas dan background hitam. Tepat di depan makam Kiai Ageng Basyariyah terdapat songsong tiga tingkat berwarna hijau nan indah. Songsong ini dihias dengan sepasang naga di bawahnya dan difungsikan sebagai rak sederhana untuk tempat Al Quran dan surat yasin.
Kompleks pemakaman di areal Masjid Agung Sewulan ini nampaknya menjadi pemakaman bagi bani basyariyah. Almarhum KH Abdul Bashit, Pengasuh PP Oro Oro Ombo Madiun yang meninggal beberapa bulan yang lalu rupanya juga anggota bani Basyariyah. Makamnya berjarak beberapa meter sebelah barat dari cungkup. Pemakaman “tua” yang menjadi salah satu situs wisata ziarah di Madiun ini selalu ada yang mengunjungi setiap harinya, terlebih di Bulan ramadhan. Beberapa peziarah dan warga sekitar menyakini bahwa makam ini merupakan makam yang keramat. 

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga memiliki garis darah dengan Kiai Ageng Basyariyah. Ulama yang negarawan dan budayawan tersebut menjadi salah satu keturunan ketujuh dari Kiai Ageng Basyariyah. Nenek Gus Dur (Ibu Nyai Hasyim Asy’ Ary) yang bernama Nafiqoh merupakan salah satu putri dari Kiai Ilyas, putra dari Kiai Raden Mas Buntaro. Kiai Mas Buntaro ini adalah salah satu putra dari Kiai Muhammad Santri sekaligus cucu langsung dari Kiai Ageng Basyariyah. Menurut pangakuan Mbah Mawardi, Gus Dur sempat hidup selama 3 tahun di Sewulan semasa kecil, bersama keluarga besar neneknya. Ketua Takmir Masjid Sewulan ini pernah mengisahkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang pandai bergaul dan suka bercanda. Beserta beberapa teman sepermainan, mereka kerap bermain-main di kolam depan Masjid Sewulan. Bahkan kerabat Gus Dur satu ini mengaku punya saksi berupa goresan kecil di pelipis. “Ini merupakan kenang-kenangan waktu dulu bermain dengan Gus Dur di kolam ini”, kenangnya sambil tersenyum.  

RIWAYAT MONDOK DI TEGALSARI PONOROGO

Diceritakan bahwa Kyai Ageng Prungkut Sumoroto mempunyai putra lelaki bernama Bagus Harun (Basjarijah) dan dipondokkan oleh ayahnya di Tegalsari, perlu ikut (nyuwito) sekalian belajar ilmu Agama Islam. Bagus Harun berada di Tegalsari sangat tunduk dan patuh kepada Gurunya dan selalu mengikuti segala perintah. Bila Kyai akan bersantap yang melayani adalah Bagus Harun dan ditunggui sampai selesai bersantap. Begitu pula bila mau mandi, Bagus Harunlah yang menimba air.

Disuatu saat di Tanah Jawa terjadi kegegeran yang sangat mengerikan, yaitu datangnya berandal dari Negeri Cina, merampok dan merampas di Kraton Surakarta.
Hal ini membuat Sang Sinuhun meninggalkan Kraton dan lolos mengungsi ke jurusan timur didampingi Tumenggung Wiratirto di dalam perjalanannya hingga sampai di esa Sawo, Ponorogo.
Karena capai dan lemasnya, kedua pria agung berhenti di lereng gunung Bubuk. Sampai sekarang batu yang pernah diduduki masih ada, berada di sebelah Utara Barat pasar Sawo, Ponorogo. Akan meneruskan perjalanan ke arah timur sudah tidak kuat disebabkan jalan sudah mulai menanjang gunung.
Ketika Sang Sinuhun melihat ada seorang naik pohon kelapa mengambil Nira/Legen, lalu menanyakan kepada Tumenggung : “He, Wirotirto, itu orang naik pohon kelapa kok pakai bumbung segala?” Wirotirto menjawab pertanyaan Sang Sinuhun : “Itu sedang mengambil Legen/Nira (nderes), akan dibikin gula kelapa”. Sang Sinuhun bertanya lagi : “Bolehkah kiranya aku minta legennya untuk diminum?” “Akan saya coba meminta,” Kata Wiratirto. Jadilah Tumenggung Wirotirto minta legen kepada orang yang lagi nderes. Setelah Wirotirto menerima legen terus disampaikan kepada Sang Sinuhun. Setelah Sang Sinuhun selesai minum legen, berkatalah beliau kepada yang memberi legen : “Pak, aku senang sekali atas legen pemberianmu, sungguh berterima kasih aku, mudah-mudahan legenmu oleh Yang Maha Kuasa setelah menjadi gula dijadikan gula yang enak lagi manis sampai turun temurun”. Itulah sebabnya gula kelapa dari desa Sawo enak rasanya, manis dan gurih dan kuning rupanya sehingga tersohor di seluruh daerah Ponorogo.
Kira-kira pukul satu tengah malam, Sang Sinuhun mendengar suatu seperti suara lebah yang sedang kirab (terbang keliling) keluar dari sarangnya, gemuruh karena banyaknya. Bertanya Sinuhun kepada Tumenggung Wirotirto : “Wirotirto, suara apakah itu yang gemuruh ?”. Wirotirto menjawab : “Itu adalah suaranya orang sedang munajad kepada Allah”. “Kalau begitu mari kita datangi mereka, siapa tahu dapat memberikan obat kepada saya!” demikian ajak Sang Sinuhun kepada Tumenggung Wirotirto mendatangi mereka yang sedang munajad.
Adapun yang suaranya gemuruh itu, tidak lain adalah suara Bagus Harun dan Kyai Tegalsari bermunajad, memohon rahmat dan derajat untuk putra cucunya sampai datang kiamat. Setelah Sang Sinuhun bertemu dengan Kyai Ageng Tegalsari kemudian menceritakan dari awal sampai akhir tentang kejadian yang menimpa Negeri Surakarta.

Cerita selanjutnya, Sang Sinuhun menghendaki Kyai Ageng Tegalsari ikut membantu mengusir berandal Cina. Kelak bila dapat berhasil, Sang Sinuhun akan memberikan hadiah, yaitu akan memberi tanah tanpa dikenakan membayar pajak sampai turun temurun.
Kyai Ageng Tegalsari lalu munajad kepada Allah Swt. dengan jalan shalat hajad. Setelah selesai, kemudian berdoa :
“Ya Allah, semoga jadikanlah Negeri ini, menjadi Negeri yang aman dan tentram. Dan semoga Allah memberi rizqi kepada rakyat semua dengan rizqi yang suci lagi yang halal”.
Sesudah berdoa, Kyai Ageng Tegalsari kemudian unjuk bicara : “Gusti Yang Mulia, saya persilahkan kembali, Negeri Kartasura kini sudah aman dan tentram. Prajurit berandal Cina sudah kembali semua, sebab Tanah Jawa kelihatan sempit sekali, percuma akan memerintah Tanah Jawa”. Sang Sinuhun kemudian berkata, “Saya supaya disertai teman Kyai, kalau kembali ke Solo”. Bagus Harun kemudian diperintah Kyai untuk menemani dan menghantar Sang Sinuhun. Pagi harinya sekira pukul 6 pagi, Sang Ratu, Tumenggung Wirotirto dan Bagus Harun berangkat menuju Solo. Sesampainya di desa Srandil mereka berhenti untuk istirahat menghilangkan lelah.
Beberapa saat setelah istirahat, Sang Sinuhun merasa lapar. Kebetulan ada seorang wanita janda yang membawa kemarang (keranjang dari bambu) yang isinya nasi dan sayur berkuah. Sang Sinuhun bertanya kepada Bagus Harun, “Orang itu menggendong apa, Bolehkah saya minta?” “Coba saya Tanya dahulu !” balas Bagus Harun. Ketika ditanya dengan baik-baik, akhirnya nasi dan sayur diberikan. Nasi sayur kemudian disantap Sang Sinuhun. Sesudah selesai bersantap kemudian bertanya : “Desa ini namanya desa apa?” Bagus Harun kemudian menjawab, “Kalau desa ini belum ada namanya”. Sang Sinuhun berkata lagi, “Enaknya dan sebaiknya dinamakan desa Menang saja, sebab hari ini saya sudah Menang dapat mengusir berandal Cina”. Selanjutnya Sang Sinuhun berkata kepada mbok Rondojian – ibu janda, “Saya sangat senang sekali bahwa engkau telah ikhlas memberi nasi yang saya minta. Maka nanti kalau ada waktu, kelak engkau datanglah ke Solo, ini engkau saya beri surat, adapun tanda-tanda rumahku, kalau ada rumah yang mempunyai halaman lebar, yang itulah rumahku”. Di lain waktu mbok Rondo kemudian datang menghadap ke Solo dan dianugrahi Bumi Merdiko sampai sekarang.
Sang Sinuhun dan Bagus Harun melanjutkan perjalanan ke Solo. Sesampainya di Solo langsung menuju masuk di Kraton dengan selamat.
Bagus Harun di Solo terus masuk Masjid Suronatan, untuk sholat hajad mempertegas memohon kepada Allah. Kurang lebih 40 hari lamanya, Kraton Solo dan daerah kekuasaannya dalam keadaan aman dan tentram. Setelah itu Bagus Harun mohon pamit kembali pulang ke Tegalsari. Sang Sinuhun mengizinkan dan memberi hadiah berupa payung kebesaran dan lampit (tikar dibuat dari anyaman belahan rotan), sebagai tanda jasa (pembelaan). Setelah sampai di Tegalsari, Bagus Harun melapor kepada Kyai Ageng Tegalsari bahwa keadaan yang ditemui di Negeri Solo dari awal sampai akhir. Paying dan lampit pemberian dari Sang Sinuhun sebagai anugerah juga diserahkan kepada Kyai Ageng Tegalsari. Tetapi Kyai Ageng Tegalsari tidak mau menerimanya dan berkata kepada Bagus Harun : “Yang dihadiyahi itu engkau, bukan aku, sebab yang menghantarkan ke Solo adalah engkau.” Bagus Harun tidak menjawab sepatah katapun, tetapi setelah waktu malam tidak dapat memejamkan mata, selalu memikirkan masalah itu yang diberi anugerah tersebut dia sendiri atau Kyai Ageng Tegalsari? Lalu yang menjadi keputusan hatinya ialah pada esok harinya berangkat kembali menuju Solo. Sesampainya di kota Solo dan keadaan cuaca sangat panans, maka paying kemudian dibuka dan dipakai terus sampai alun-alun.
Setelah perajurit Kraton Mengetahui kemudian mereka bersiap sedia karena dikira ada Prajurit Cina yang akan masuk ke Kraton. Bagus Harun kemudian dihujani panah dari segala penjuru terkepung rapat, Namun tidak satupun anak panah mengenai badannya.
Untuk menjaga jangan sampai berlarut-larut, Bagus Harun kemudian melemparkan tongkatnya. Dan seketika itu bubarlah prajurit Kraton tunggang langgang dan banyak yang menjadi korban. Sang Sinuhun setelah mendengar kalau prajurit Cina sudah memasuki Kraton, cepat-cepat keluar memasang Kyai Setomo dan Nyai Setomi untuk menanggulangi musuh. Setelah yang masuk ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah Bagus Harun sambil berkata, “Oooo, tidak tahu kalau Kyai, saya kira prajurit Cina datang merampok lagi”. Kemudian Sang Sinuhun minta keterangan kejadian seperti itu tadi. Bagus Harun menjawab, sewaktu ia melewati alun-alun memakai payung, dipanahi dari sebelah kanan-kiri sehingga terjadi pertengkaran.
Setelah Bagus Harun menjelaskan kepada Sang Sinuhun maksud kedatangannya, maka Sang Sinuhun menjelaskan bahwa paying dan lampit tersebut sebagai anugerah untuknya dan untuk selama-lamanya.
Setelah jelas dan ternyata kedua barang tersebut untuknya, Bagus Harun kemudian kembali ke Ponorogo lagi.
Ketika perjalanan Bagus Harun sampai di grojogan (dam) Bang Peluwang di desa Nglengkong, Kecamatan Sukorejo Distrik Sumoroto, ia berhenti dan berpikir tentang paying dan lampit, kata hatinya : “Jika paying dan lampit ini kurawat sampai kelak, pasti anak-cucuku nantinya akan mempunyai pikiran sok besar (gemede), mengandalkan perjuangan ayahnya kepada Negeri. Lebih baik kedua barang ini kutitipkan saja di grojokan sini”. Seketika itu paying dan lampit dijeburkan dalam grojokan dan berkata : “Grojogan, saya titip payung dan lampit, kelak bila anak-cucuku pada bertapa kemari, dan kiranya bakal berhasil maksudnya, muncullah menampakkan diri”.
Karenanya anak-cucu Bagus Harun bila mempunyai hajad, banyak yang menjalankan rialat atau bertapa di situ (grojogan Bang Peluwang).

ASAL MUASAL DESA SEWULAN

Sekembalinya Bagus Harun dari Solo, lalu ikut (nyuwito) lagi pada Kyai Ageng Tegalsari. Lama-kelamaan Bagus Harun mempunyai keinginan menjadi orang yang berdiri sendiri lagi mempunyai tanah bukan (babadan) sendiri juga merdeka seperti Tegalsari.
Pada suatu hari Bagus Harun menghadap Kyai Ageng Tegalsari dan menyampaikan keinginan hatinya : “Duhai rama Panembahan, perkenankanlah kami menyampaikan keinginan ke hadapan rama Panembahan”. Kyai Ageng Tegalsari bertanya : “Iya ada Gus, coba haturkan!”. “Saya mempunyai keinginan mempunyai tanah babadan seperti Kyai, lagi pula merdika. Kiranya tanah mana yang dapat saya babad yang dapat saya turunkan kepada anak-cucu?” demikian haturnya Bagus Harun.
Kyai Ageng Tegalsari memberi petunjuk, “Harun, kalau engkau ingin babad tanah, carilah payungmu yang kau buang di grojokan Bang Peluwang dahulu itu, nanti kitari mengikuti hutan, jangan berhenti sebelum ketemu”.
Bagus Harun kemudian berfikir-fikir sejenak di dalam hati, pikirnya bingung, ling lung dan tidak habis fakir.
“Lha payung saya buang di dalam grojokan, jelas saya masih ingat betul, saya kok diperintah Kyai Ageng mencari di dalam hutan, apa ya masuk akal?” demikian kata hati Bagus Harun.
Karena tiada tindakan atau reaksi apa-apa dari Bagus Harun, maka Kyai Ageng berkata, “Lho jangan termangu-mangu dan ling lung Harun, Allah itu mempunyai Kekuasaan Yang Besar, Maha Besar! Kalau engkau ingin segera memiliki tanah babadan, cepat-cepat carilah payungmu sepanjang hutan.
Setelah Bagus Harun mendengar kata-kata Kyai Ageng Tegalsari yang meyakinkan, tanpa menunggu apa-apa ia pun segera berangkat (pepatah Jawa mengatakan “rindik asu digitik” kurang lebih artinya “anjing kalau kena pukul akan lari) melaksanakan perintah Kyai Ageng Tegalsari. Setelah sampai di hutan, dimasukilah hutan sampai berhari-hari dan berbulan-bulan, setelah genap 1000 hari Bagus Harun berada di dalam hutan, ada suatu keanehan. Bagus Harun mencium bau-bauan yang harum dan dari tempat itulah muncullah payung yang berdiri tegak tinggal kerangkanya saja. Bagus Harun mendekati dan ternyata setelah diteliti benar-benar payung tersebut adalah miliknya, terbukti adanya tanda huruf “H” pada gagang payung. Tanda huruf “H” tersebut ia tulis sewaktu akan membuang payung tersebut ke dalam grojogan. Kerangka payung kemudian dibawa pulang dan dihaturkan kepada Kyai Ageng Tegalsari. Dan setelah menerima kerangka payung tersebut Kyai Ageng Tegalsari berkata, “Ya di tempat payung ini engkau ketemukan, dirikanlah sebuah Masjid, dan tempat tersebut beri nama SEWULAN, sebab waktu mencari sampai ketemunya payung ini engkau membutuhkan waktu 1000/sewu (seribu) dina (hari)”.
Maka setelah tempat dimana Masjid berdiri meluas menjadi desa, desanya dinamakan juga desa SEWULAN, sampai sekarang masih ada.



5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  2. bersumber dari mana tulisan ini Kang? mengapa gak ditulis sumbernya? menurut saya dan menurut temen2, kok tulisan anda banyak yang janggal. maaf lho sebelumnya. ini tulisan sendiri atau copy paste dari mana? atau campuran? anda keturunan Mbah Tapsir? kenal Kang Mitro Sewulan ?

    BalasHapus
  3. nyuwun sewu, bade tanglet, nopo Ki Ageng Bashoriyah niki nopo sing saking Sewulan trus gada putra Kyai Ageng Moch. Santri ? Nuwun

    BalasHapus
  4. tapi lumayan banyak ceritanya dibanding tulisan lain, Pak Ilyas kan bapaknya Ghulam konco SMA ku

    BalasHapus
  5. Versi keraton bahwa Pangeran Pringgoloyo itu putra langsung dari Panembahan Senopati, hasil nikah beliau dengan permaisuri,Raden Ajoe Retno Djoemilah Kuncen Madiun. Makam beliau ada di Ponorogo. jika ingin ziarah, insya Allah akan saya temani.Silahkan kontak saya 085334153399

    BalasHapus